Copyright © 2026. Encyclopedia Celia

Thursday, May 28th, 2026 – Tim Encyclopedia Celia
Kita merayakan kurban dengan terlalu banyak kebisingan.
Spanduk.
Nama penyumbang.
Foto sapi yang diunggah ke media sosial.
Kita ingin dilihat.
Dan kita menyebutnya ibadah.
Jika kita mundur ke awal kisahnya, tidak ada itu semua.
Tidak ada dokumentasi.
Tidak ada validasi sosial.
Yang ada hanya keheningan yang mencekik—
dan satu keputusan yang tidak masuk akal bagi manusia.
Ibrahim tidak sedang bersedekah.
Ia diminta menyerahkan sesuatu yang paling ia cintai.
Bukan kelebihan.
Bukan sisa.
Tapi pusat dari hidupnya sendiri.
Filsuf Søren Kierkegaard menyebut momen itu sebagai teleological suspension of the ethical—
ketika seseorang melampaui logika moral biasa demi sesuatu yang lebih tinggi.
Artinya sederhana:
Ini bukan tentang benar atau salah.
Ini tentang berani kehilangan.
Dan kita… tidak kehilangan apa-apa.
Kita tidak sedang berkurban.
Kita sedang bertransaksi.
Memberi sesuatu.
Lalu diam-diam berharap dibalas:
ketenangan,
pengakuan,
atau sekadar perasaan bahwa kita sudah cukup baik.
Tuhan kita turunkan jadi partner bisnis.
Ali Shariati pernah bertanya:
“Siapa Ismail-mu?”
Dan pertanyaan itu terlalu jujur untuk kita jawab.
Karena kita tahu jawabannya bukan kambing atau sapi itu.
Keduanya itu bukan Ismail-mu.
Tidak ada yang benar-benar hilang saat kamu membayarnya.
Tidak ada yang terasa sakit.
Itu bukan pengorbanan.
Itu pengeluaran.
Ismail bukan tentang apa yang kamu miliki.
Tapi tentang apa yang tidak bisa kamu lepaskan.
Ego.
Validasi.
Rasa ingin terlihat benar.
Kenyamanan yang kamu tahu salah, tapi tetap kamu pertahankan.
Selama itu masih kamu peluk—
kamu belum berkurban.
Kita tidak takut pada Tuhan.
Kita takut pada penilaian orang.
Itu sebabnya kita beribadah dengan kamera.
Dengan caption.
Dengan daftar nama.
Bukan untuk melepaskan,
tapi untuk memastikan kita terlihat memberi.
Kita ingin pengorbanan tanpa kehilangan.
Kita ingin spiritualitas tanpa rasa sakit.
Dan itu tidak pernah benar-benar ada.
Jika kurban hanya berhenti di darah hewan,
maka tidak ada yang berubah dari diri kita.
Kita tetap orang yang sama:
masih butuh dipuji,
masih takut ditolak,
masih terikat pada hal-hal yang kita tahu seharusnya kita lepaskan.
Kurban seharusnya bukan tentang seberapa besar hewan yang kita beli.
Tapi tentang seberapa dalam kita berani memotong ego kita sendiri.
Dan itu jauh lebih sunyi.
Jauh lebih tidak nyaman.
Dan tidak bisa dipamerkan.
Mungkin sebelum menyembelih apa pun di luar sana,
kita perlu berhenti sejenak.
Masuk ke ruang yang tidak terlihat siapa pun.
Lalu bertanya dengan jujur:
Apa yang sebenarnya aku pertahankan?
Jika tidak ada yang benar-benar kamu lepaskan,
maka tidak ada yang benar-benar kamu korbankan.
Selamat Hari Selasa.
Darah di tanah akan mengering.
Tapi ego yang tidak pernah disentuh
akan terus hidup—
dan diam-diam menguasai segalanya.
Jika kau tidak menyembelih egomu,
egomu yang akan menyembelih nuranimu.
~ Tanpa Lilin ~
Bacaan Lanjutan: Menolong nurani dari siksaan ego dimulai dengan keberanian untuk berhenti menuntut lebih. Sebuah catatan tentang batas dan penerimaan: Belajar Arti Kata Cukup
Untuk bedah filosofis kurban yang lebih mendalam melalui kacamata Kierkegaard, baca esai panjangnya di Kurban: Antara Perintah Tuhan dan Transaksi Ego






