Copyright © 2026. Encyclopedia Celia

Tuesday, May 20th, 2026 – Tim Encyclopedia Celia
Ada ironi yang sunyi ketika layar laptop dibiarkan menyala menembus dini hari. Di satu jendela peramban, kursor berkedip perlahan di atas draf personal statement untuk sebuah aplikasi program Magister Komunikasi Strategis—sebuah upaya keras merajut asa tentang narasi, kontribusi intelektual, dan ruang dialektika yang lebih luas. Namun, tepat di tab sebelahnya, realitas menampar dalam bentuk deretan Purchase Order, lembar invoice proyek industrial, hingga panduan ketat anotasi data mekanis yang menuntut kepatuhan absolut. Benturan antara idealisme keilmuan dan pragmatisme dunia profesional ini bukanlah sekadar krisis eksistensial individu; ia adalah mikrokosmos dari wajah pendidikan tinggi kita hari ini.
Ketika kita menarik mundur lensa observasi, pergeseran makna ini berakar kuat pada arah kebijakan pendidikan di bawah komando Nadiem Makarim. Slogan “Merdeka Belajar – Kampus Merdeka” (MBKM) digaungkan ke seluruh penjuru negeri dengan janji emansipasi. Namun, di balik baliho-baliho cerah tersebut, tersembunyi sebuah arsitektur kebijakan yang perlahan menggeser fungsi fundamental universitas: dari ruang suci tempat pemikiran kritis ditempa, menjadi sekadar pabrik pencetak tenaga kerja siap pakai demi melayani mesin industri.
Kampus Sebagai Perpanjangan Tangan Korporasi
Selama bertahun-tahun, ruang kelas—terutama di fakultas-fakultas humaniora dan filsafat—dianggap sebagai arena tempat mahasiswa belajar membedah kerumitan eksistensial, mempertanyakan tatanan sosial, dan merumuskan rasionalitas. Di sanalah tempat untuk keliru, berdebat, dan mencari makna. Namun, metrik keberhasilan pendidikan tinggi kini telah direduksi secara brutal. Keberhasilan sebuah kampus tidak lagi diukur dari seberapa banyak pemikir, budayawan, atau inovator sosial yang dilahirkan, melainkan bertumpu pada Indikator Kinerja Utama (IKU) yang sangat teknis: seberapa cepat lulusannya terserap oleh pasar tenaga kerja.
Kurikulum dipangkas, dijahit ulang, dan diselaraskan sedemikian rupa dengan “kebutuhan industri”. Mahasiswa didorong keluar dari kampus untuk mengikuti magang bersertifikat, yang esensinya sering kali hanyalah penyediaan tenaga kerja murah bagi korporasi. Narasi “merdeka” yang dijual pada kenyataannya adalah kebebasan ilusionis. Kita bebas memilih jalur mana saja—entah itu magang, studi independen, atau proyek—selama jalur tersebut bermuara pada kesiapan menjadi pekerja yang patuh, presisi, dan produktif. Kebebasan intelektual digantikan oleh kurikulum pragmatis yang menuntut kita menguasai perangkat lunak terbaru, tetapi tidak pernah mengajarkan kita untuk mempertanyakan: Untuk siapa sistem ini dibangun? Dan siapa yang sebenarnya diuntungkan dari efisiensi yang kita ciptakan?
Komersialisasi dan Pendidikan Sebagai “Kebutuhan Tersier”
Tragedi dari sistem ini mencapai puncaknya ketika pendidikan tinggi mulai dilabeli secara terang-terangan sebagai “kebutuhan tersier” oleh para pemangku kebijakan, seiring dengan polemik meroketnya Uang Kuliah Tunggal (UKT). Pernyataan ini bukan sekadar keseleo lidah; ia adalah cerminan dari ideologi neoliberal yang memandang pendidikan bukan lagi sebagai hak dasar atau instrumen pencerahan bangsa, melainkan sebagai investasi privat.
Jika pendidikan adalah investasi privat, maka wajar jika ia diperjualbelikan dengan harga tinggi. Institusi pendidikan berubah wujud menjadi korporasi yang harus menghitung untung-rugi. Mahasiswa berubah status menjadi konsumen, dan ilmu pengetahuan direduksi menjadi komoditas. Dampaknya sangat destruktif: pendidikan tinggi kembali menjadi menara gading yang hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki privilese finansial. Bagi mereka yang tidak mampu membayar “kebutuhan tersier” ini, sistem telah menyiapkan jalur alternatif yang tidak kalah brutalnya: langsung masuk ke pasar tenaga kerja informal tanpa perlindungan yang memadai.
Komersialisasi ini membunuh keberagaman di dalam kampus. Ruang diskusi yang seharusnya diisi oleh berbagai latar belakang kelas sosial kini menjadi ruang eksklusif. Kita kehilangan suara-suara dari akar rumput, tergantikan oleh paduan suara keseragaman yang hanya tahu cara mematuhi instruksi manajerial.
Membedah Realitas dengan Pisau Analisis Paulo Freire
“Pendidikan tidak mengubah dunia. Pendidikan mengubah manusia, dan manusia-lah yang mengubah dunia.” — Paulo Freire
Kondisi pendidikan kita hari ini seolah membawa kita kembali pada kritik tajam yang dilontarkan oleh Paulo Freire dalam mahakaryanya, Pedagogy of the Oppressed. Freire memperkenalkan apa yang ia sebut sebagai Banking Concept of Education (Pendidikan Gaya Bank). Dalam paradigma ini, murid diposisikan sebagai wadah kosong (pasif), sementara pendidik atau sistem secara otoriter “menyetorkan” pengetahuan yang dianggap relevan oleh penguasa pasar.
Dalam pendidikan gaya bank, tidak ada ruang untuk dialog yang setara. Tidak ada dorongan untuk mencapai kesadaran kritis (conscientization). Mahasiswa tidak diajak untuk membaca dunia (reading the world), melainkan sekadar membaca kata (reading the word) sesuai dengan manual instruksi yang diberikan.
Apa yang digaungkan oleh kebijakan pendidikan saat ini adalah bentuk mutakhir dan paling canggih dari pendidikan gaya bank tersebut. Sistem tidak membutuhkan pemikir yang mempertanyakan tatanan hierarki; sistem membutuhkan operator yang bisa mengeksekusi tugas administratif dengan presisi tinggi. Kita diajarkan cara mengelola data cloud, menyusun content plan, dan merancang strategi brand awareness, tetapi sistem secara sistematis membungkam kapasitas kita untuk membongkar hegemoni budaya dan ketidakadilan struktural. Mahasiswa dicetak menjadi sekrup pelengkap yang siap dipasang ke dalam mesin besar kapitalisme tanpa pernah menyadari bahwa mereka sedang dieksploitasi.
Menolak Mati Rasa di Ruang Transisi
Menyadari cacat struktural dan ilusi kemerdekaan ini sering kali memicu rasa frustrasi yang mendalam, terutama bagi dewasa muda yang sedang berada di ruang transisi. Ada kelelahan yang nyata ketika kita harus menavigasi dua dunia: menjaga idealisme pemikiran di satu sisi, dan memastikan tagihan bulanan tetap terbayar di sisi lain.
Namun, menyerah pada sinisme bukanlah jawaban. Menyadari bahwa kita sedang bermain di dalam sistem yang manipulatif justru merupakan langkah pertama menuju pembebasan yang sesungguhnya. Ketika kita merajut kalimat demi kalimat untuk melanjutkan studi ke luar negeri, ketika kita membangun platform edukasi mandiri, atau bahkan ketika kita menyeduh segelas teh hangat di tengah kebisingan rapat koordinasi, kita sedang melakukan perlawanan diam-diam.
Keberanian sejati di era komodifikasi ini adalah mempertahankan kapasitas untuk merasa dan berpikir kritis. Kita mungkin harus tunduk pada tenggat waktu dan format laporan yang kaku, tetapi pikiran kita tidak boleh ikut teranotasi oleh sistem. Merawat keingintahuan yang murni, membaca teks-teks filsafat di luar jam kerja, dan terus menulis narasi yang jujur adalah cara kita menolak direduksi menjadi sekadar deretan angka di dalam spreadsheet kementerian.
Pendidikan yang membebaskan mungkin tidak akan pernah kita dapatkan dari kurikulum yang disetir oleh korporasi. Pendidikan sejati itu kini harus kita bangun sendiri, di sela-sela rutinitas yang riuh, di dalam keheningan ruang personal kita, dan di dalam keberanian untuk terus melihat manusia sebagai subjek, bukan objek industri.
Selamat Hari Rabu. Semoga kita tidak pernah kehilangan daya kritis, bahkan ketika sistem terus memaksa kita untuk sekadar patuh dan mengantri!
~ 曦月 (Xiyue) ~






