Copyright © 2026. Encyclopedia Celia

Monday, June 22th, 2026 – Tim Encyclopedia Celia
Beberapa minggu terakhir, potongan-potongan film Michael Jackson terus muncul di beranda TikTok saya.
Awalnya, saya hanya berhenti beberapa detik. Menonton. Lalu menggulir lagi.
Sebagai seseorang yang lahir jauh setelah masa kejayaan Michael Jackson, hubungan saya dengannya mungkin tidak sama dengan mereka yang tumbuh bersama lagu-lagunya. Saya mengenalnya sebagai legenda. Sebagai sosok yang namanya hampir selalu muncul ketika orang membicarakan musik pop. Sebagai penyanyi dengan gerakan moonwalk yang ikonik dan penjualan album yang memecahkan berbagai rekor.
Namun beberapa hari yang lalu, algoritma mempertemukan saya dengan sebuah lagu berjudul Childhood.
Saya pikir itu hanya akan menjadi lagu Michael Jackson lainnya.
Saya salah.
Lagu itu terdengar seperti dongeng.
Aransemen orkestra yang megah, paduan suara yang lembut, dan suara Michael yang terdengar begitu halus membuat saya teringat pada film-film Disney yang pernah saya tonton ketika kecil. Ada sesuatu yang hangat sekaligus melankolis di dalamnya. Sesuatu yang indah, tetapi juga terasa rapuh.
Semakin saya mendengarkannya, semakin saya menyadari bahwa Childhood bukanlah lagu tentang masa kecil.
Ia adalah lagu tentang kehilangan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya tidak melihat Michael Jackson sebagai superstar. Saya tidak melihatnya sebagai ikon budaya pop. Saya tidak melihatnya sebagai sosok yang selama puluhan tahun menjadi bahan pemberitaan, pujian, maupun kontroversi.
Saya hanya melihat seorang manusia yang tampaknya sedang merindukan sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia miliki.
Mendengarkan Michael Jackson Lewat Childhood
Ada satu bagian lirik yang terus terngiang di kepala saya:
“People say I’m not okay
Cause I love such elementary things.”
Orang-orang mengatakan aku tidak baik-baik saja karena aku menyukai hal-hal yang sederhana.
Entah mengapa, bagian itu membuat saya merasa sedih.
Bukan karena liriknya terdengar tragis. Bukan pula karena Michael menyanyikannya dengan suara yang menyayat hati. Yang membuat saya sedih adalah kenyataan bahwa seseorang harus menjelaskan kepada dunia mengapa ia menyukai hal-hal yang membuatnya bahagia.
Bukankah itu melelahkan?
Membayangkan ada begitu banyak orang yang mengamati hidup kita, menilai pilihan-pilihan kita, lalu memutuskan bahwa ada sesuatu yang salah hanya karena kebahagiaan kita terlihat berbeda dari kebahagiaan mereka.
Saya pikir banyak dari kita pernah merasakan hal yang serupa, meskipun dalam skala yang jauh lebih kecil.
Kadang kita menyukai hal-hal yang dianggap terlalu kekanak-kanakan untuk usia kita. Kadang kita masih menyimpan hobi lama yang tidak lagi dianggap keren. Kadang kita merasa nyaman dengan hal-hal sederhana yang tidak bisa dipahami oleh orang lain.
Dan sering kali, kita belajar menyembunyikannya.
Karena menjadi diri sendiri terkadang terasa lebih sulit daripada sekadar mengikuti apa yang dianggap normal.
Ketika Masa Kecil Menjadi Sesuatu yang Hilang
Ketika membaca lebih jauh tentang lagu Childhood, saya mengetahui bahwa lagu ini ditulis Michael Jackson sebagai penjelasan mengenai dirinya sendiri. Sebuah jawaban terhadap berbagai penilaian yang selama bertahun-tahun diarahkan kepadanya.
Tiba-tiba, lagu itu terasa jauh lebih menyedihkan.
Bayangkan menghabiskan sebagian besar hidup Anda di bawah sorotan publik.
Bayangkan tumbuh bukan sebagai anak-anak biasa, tetapi sebagai seorang bintang.
Saat anak-anak lain bermain di taman, Anda sedang berlatih.
Saat anak-anak lain berlarian bersama teman-temannya, Anda sedang bekerja.
Saat anak-anak lain perlahan belajar menjadi diri mereka sendiri, Anda sedang belajar memenuhi ekspektasi jutaan orang.
Saya tidak mengenal Michael Jackson secara pribadi. Saya tidak tahu seluruh kisah hidupnya. Saya juga tidak ingin berpura-pura memahami semua yang pernah ia alami.
Namun saya rasa kita tidak perlu mengenal seseorang secara mendalam untuk dapat merasakan kesedihannya.
Kadang sebuah lagu sudah cukup.
Kadang satu kalimat sudah cukup.
Kadang satu pertanyaan sederhana sudah cukup untuk membuat kita berhenti dan memikirkan seseorang dengan cara yang berbeda.
“Have You Seen My Childhood?”
Dalam lagu itu, Michael bertanya:
“Have you seen my Childhood?”
Pernahkah kalian melihat masa kecilku?
Bagi saya, itu bukan sekadar lirik.
Itu terdengar seperti jeritan yang sangat sunyi.
Karena pertanyaan itu tidak terdengar seperti seseorang yang sedang mencari simpati. Ia terdengar seperti seseorang yang sedang mencari jawaban.
Ke mana perginya masa kecil yang seharusnya ia miliki?
Ke mana perginya waktu yang tidak pernah sempat ia jalani?
Ke mana perginya versi dirinya yang hanya ingin menjadi anak-anak?
Michael Jackson dan Peter Pan
Mungkin karena itulah saya mulai memahami mengapa Michael begitu sering dikaitkan dengan Peter Pan.
Selama bertahun-tahun, banyak orang melihatnya sebagai keanehan. Sebagai simbol ketidakmampuan untuk tumbuh dewasa.
Namun setelah mendengarkan Childhood, saya melihatnya secara berbeda.
Saya tidak melihat Peter Pan sebagai simbol penolakan terhadap kedewasaan.
Saya melihat Peter Pan sebagai simbol kerinduan.
Kerinduan terhadap sesuatu yang hilang sebelum sempat dimiliki.
Dan entah mengapa, pemikiran itu membuat saya menangis.
Saya Ingin Menjadi Teman Bermainnya
Ada satu pengakuan yang mungkin terdengar aneh.
Ketika mendengarkan lagu itu, saya tidak merasa ingin bertemu Michael Jackson sang legenda. Saya tidak membayangkan konsernya. Saya tidak membayangkan ketenarannya.
Yang saya bayangkan justru sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Saya ingin menjadi teman bermainnya.
Saya tahu kalimat itu terdengar aneh, terutama karena saya tidak pernah mengenalnya.
Tetapi itulah perasaan pertama yang muncul.
Saya membayangkan seorang anak yang terlalu cepat menjadi dewasa. Seorang anak yang harus memikul beban yang tidak seharusnya dipikul oleh anak-anak. Seorang anak yang selama hidupnya lebih sering dilihat daripada dipahami.
Dan saya hanya ingin ada seseorang yang berkata kepadanya:
“Tidak apa-apa. Ayo bermain.”
Ketika Kita Berhenti Melihat Selebritas
Mungkin karena pada akhirnya, yang paling dibutuhkan oleh banyak manusia bukanlah kekaguman.
Melainkan penerimaan.
Bukan tepuk tangan.
Melainkan pengertian.
Bukan sorotan.
Melainkan seseorang yang bersedia duduk di samping mereka tanpa berusaha mengubah siapa mereka.
Barangkali itulah alasan mengapa Childhood terasa begitu menyentuh bagi saya.
Lagu itu memang berbicara tentang Michael Jackson. Namun semakin lama saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa lagu itu juga berbicara tentang banyak orang di luar sana.
Tentang mereka yang kehilangan sebagian dari dirinya karena tuntutan hidup.
Tentang mereka yang dipaksa tumbuh terlalu cepat.
Tentang mereka yang diam-diam masih merindukan sesuatu dari masa lalu.
Dan mungkin, jika kita cukup jujur pada diri sendiri, sebagian dari kita juga sedang mencari hal yang sama.
Mungkin bukan masa kecil.
Mungkin bukan taman bermain.
Mungkin bukan dunia dongeng.
Tetapi bagian dari diri kita yang pernah hilang di tengah perjalanan.
Mendengarkan Seorang Manusia
Karena itu, ketika lagu Childhood berakhir, saya tidak merasa sedang mendengarkan kisah seorang superstar.
Saya merasa sedang mendengarkan seorang manusia.
Dan mungkin, di tengah dunia yang begitu cepat menghakimi, kemampuan untuk melihat manusia di balik segala label adalah salah satu bentuk kasih sayang yang paling sederhana.
Jadi, jika suatu hari nanti seseorang terlihat berbeda dari yang kita anggap normal, mungkin kita tidak perlu buru-buru menghakiminya.
Mungkin kita hanya perlu bertanya dengan lebih lembut:
Sebenarnya, cerita apa yang belum kita dengarkan dari mereka?
Selamat Hari Selasa. Kita mungkin tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi Michael Jackson. Namun melalui sebuah lagu, saya belajar bahwa bahkan orang yang paling dikenal di dunia pun tetap bisa merasa sendirian.
~ Celia ~






